Rabu, 30 Juli 2014

Pengukuran Antropometri pada Nutrition Assesment

DIETETIK DASAR
Pengukuran  Antropometri pada Nutrition Assesment
 
Kelompok VI
 

Chintya Wulandarie                              NIM  PO.62.20.1.12.208
Heny meilisa                                              nim po.62.20.1.12.216
Rizky dewi fianita                                  nim po.62.20.1.12.237
Supendi                                                        nim po.62.20.1.12.240

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia.Dalam bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang seringdigunakan adalah berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuhlainnya seperti lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut,lingkaran perut, lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran antropometri tersebut bisaberdiri sendiri untuk menentukan status gizi dibanding baku atau berupa indeksdengan membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB. TB/U (Sandjaja,dkk., 2010).Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau darisudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan berbagai macampengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkatgizi (Supariasa, dkk., 2001).Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensitubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika danukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampaiterbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentilesampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini sangat berguna dalamperancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusiayang memakainya (Nugroho, 2002).Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakanadalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauanstatus gizi anak balita menggunakan metode antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizimasyarakat selalu menggunakan metode tersebut (Supariasa, dkk., 2001).Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang, kemakmuran ternyatadiikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan bergeserdari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran, makanan berserat ke pola makan masyarakat barat yang komposisinya terlalubanyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi miskin serat. Sejalandengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalensikegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan, yang diikuti pula padaakhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007).Perhatian utama adalah mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut berperan danmemiliki kemmpuan untuk ikut dalam upaya pembangunan. Salah satu upayapenting untuk mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan di idang kesehatandan gizi. Antropometri sebagai teknik yang mula-mula dikembangkan dikalanganantropolog biologis, kini aplikasinya menyentuh berbagai bidang antara lainkedokteran, olahraga, antropologigizi, keperawatan, dan pediatric dalam ilmupertumbuhan anak. Antropolog seperti Tanner, Bogin, Boucher, Malina, danUlijaszek mengembangkan teknik antropometri yang dihubungkan dengan teoripertumbuhan manusia dari intra-uterine sampai adolesentia akhir (sekitar 20tahun) (Barasi, 2008).Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam kedokteranmanjadi bermakna apabila disertai latar belakang teori yang adekuat tentangpertumbuhan. Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran antropometri, setidak-tidaknya ada lima hal penting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahuikekern otot, kekekaran tualng, ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai danlengan, serta kandungan lemak tubuh di ekstremitas dan di torso. Dalampemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur(TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atasmenurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008).Karena antropometri sebagai indikator penilaian status gizi yang palingmudah yang dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter, antara lain:umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada,lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Oleh karena itu, untuk mengetahuistatus gizi seseorang, maka dilakukan pengukuran antropometri ini.
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Pengertian Antropometri
Istilah anthropometry berasal dari kata “anthropos (man)” yang berarti manusia dan “metron (measure)” yang berarti ukuran (Bridger 2003). Berikut adalah beberapa definisi antropometri dari berbagai sumber:
a. Antropometri menurut (Nurmianto 1996) adalah suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik tubuh manusia seperti ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.
b. Antropometri terutama berkaitan dengan dimensi stasiun kerja dan pengaturan alat, peralatan, serta material (Pulat 1997).
c. Antropometri tidak hanya fokus pada kesesuaian ketinggian tempat kerja, tetapi juga bagaimana operator dapat dengan mudah mengakses kontrol dan perangkat input(Helander 2006).
d. Antropometri merupakan studi dan pengukuran dimensi tubuh manusia (Wickens et al. 1998).
Ada 3 filosofi dasar untuk desain yang digunakan oleh ahli-ahli ergonomi sebagai data antropometri untuk diaplikasikan (Niebel & Freivalds 2002).
a. Desain untuk Ekstrim, yang berarti bahwa untuk desain tempat atau lingkungan kerja tertentu seharusnya menggunakan data antropometri individu ekstrim. Contoh: penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat.
b. Desain untuk penyesuaian, desainer seharusnya merancang dimensi peralatan atau fasilitas tertentu yang bisa disesuaikan dengan pengguna (users). Contoh: perancangan kursi mobil yang letaknya bisa digeser maju atau mundur, dan sudut sandarannya pun bisa diubah.
c. Desain untuk rata-rata, desainer dapat menggunakan nilai antropometri rata-rata dalam mendesain dimensi fasilitas tertentu. Contoh: desain fasilitas umum seperti toilet umum, kursi tunggu, dan lain- lain.
Untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas, maka faktor-faktor seperti panjang dari suatu dimensi tubuh baik dalam posisi statis maupun dinamis harus diperhatikan. Hal lain yang perlu diamati adalah berat dan pusat massa (centre of gravity) dari suatu segmen/bagian tubuh, bentuk tubuh, jarak untuk pergerakan melingkar (angular motion) dari tangan dan kaki, dan sebagainya.
Selain itu, harus didapatkan pula data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasikan pada data perseorangan. Namun, semakin banyak jumlah manusia yang diukur dimensi tubuhnya, maka semakin terlihat besar variasi antara satu tubuh dengan tubuh lainnya baik secara keseluruhan tubuh maupun persegmennya (Nurmianto, 1996).

Data antropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll.).
2. Perancangan peralatan kerja (perkakas, mesin, dll.).
3. Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dll.).
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Ada beberapa prinsip dalam perancangan area kerja, yaitu:
a. Menentukan ketinggian permukaan area kerja dengan tinggi siku
b. Menyesuaikan ketinggian berdasarkan pekerjaan yang dilakukan
c. Menyediakan kursi yang nyaman untuk operator duduk
d. Menyediakan kursi yang dapat disesuaikan
e. Mendorong fleksibilitas postural
f. Menyediakan tikar anti lelah (antifatigue mats) untuk operator yang berdiri
g. Meletakkan semua alat dan bahan dalam jangkauan kerja yang normal
h. Menetapkan lokasi alat dan bahan untuk mendapatkan posisi terbaik
i. Menggunakan alat pengiriman untuk mengurangi jangkauan dan perpindahan 
    berulang
j. Mengatur alat, kontrol, dan komponen lain secara optimal untuk meminimalkan 
    gerakan.
Antropometri dibagi atas dua bagian, yaitu:
1) Antropometri statis, di mana pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang berada dalam posisi diam. Dimensi yang diukur pada Anthropometri statis diambil secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasil pengukuran representatif, maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap berbagai individu, dan tubuh harus dalam keadaan diam.
2) Antropometri dinamis, di mana dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur.

Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu:
a) Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas. Contoh: dalam mempelajari performa atlet.
b) Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja.  Contoh: Jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif saat bekerja yang dilakukan dengan berdiri atau duduk.
c) Pengukuran variabilitas kerja. Contoh: Analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator komputer.
A.      Faktor Yang Mempengaruhi Antropometri
Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi dimensi tubuh manusia, diantaranya (Wieckens et al, 2004):
a)    Usia
Ukuran tubuh manusia (stature) akan berkembang dari saat lahir sampai kira-kira berumur 20-25 tahun (Roche & Davila, 1972; VanCott & Kinkade, 1972) dan mulai menurun setelah usia 35-40 tahun. Bahkan, untuk wanita kemungkinan penyusutannya lebih besar. Sementara untuk berat dan circumference chest akan berkembang sampai usia 60 tahun.
b)   Jenis Kelamin
                Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan 
             pinggul.
c) Suku Bangsa (Etnis) dan Ras
Ukuran tubuh dan proporsi manusia yang berbeda etnis dan ras mempunyai perbedaan yang signifikan. Orang kulit hitam cenderung mempunyai lengan dan kaki yang lebih panjang dibandingkan orang kulit putih.
d) Pekerjaan
Aktivitas kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan ukuran tubuh manusia. Pemain basket professional biasanya lebih t inggi dari orang biasa. Pemain balet biasanya lebih kurus disbanding rata-rata orang. Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa kondisi tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi variabilitas ukuran dimensi tubuh manusia yang juga perlu mendapat perhatian, seperti:
a.       Cacat tubuh.
Data antropometri akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang- orang cacat.
b. Faktor iklim
Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Artinya, dimensi orang pun akan berbeda dalam satu tempat dengan tempat yang lain.
c. Kehamilan (pregnancy)
Kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran dimensi tubuh (untuk perempuan) dan tentu saja memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti itu.
Antropometri sangat bermanfaat dalam dunia industri, namun ada kelebihan dan kekurangan dari penggunaan antropometri. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan antropometri.
1.    Kelebihan Antropometri
Ada beberapa kelebihan dari penggunaan pengukuran antropometri, yaitu (scribd.com):
a.   Prosedur yang digunakan sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel cukup besar.
b.  Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli.
c.  Alat yang digunakan murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dandibuat didaerah setempat.
d.  Metode ini tepat dan akurat.
e.  Umumnya dapat mengidentifikasi status buruk, kurang baik danbaik, karenasudah ada batasan yang jelas.
f.  Dapat digunakan untuk pencegahan kelompok yang rawan terhadap gizi.

2.    Kelemahan antropometri
Beberapa kelemahan dari penggunaan pengukuran antropometri, yaitu (scribd.com):
a.  Tidak sensitive yaitu tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat,tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu, misal Fe dan Zn.
b.  Faktor di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
c.  Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi akurasi, dan validitas pengukuran.
d.  Kesalahan terjadi karena: pengukuran, perubahan hasil pengukuran(fisik dan komposisi jaringan), analisis danasumsi yang keliru. Sumber kesalahan biasanya berhubungan dengan latihan petugas yang tidak cukup, kesalahan alat, kesulitan pengukuran.
BAB III
KESIMPULAN
1.    Antropometri artinya ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
2.      Pertumbuhan didefinisikan sebagai perkembangan yang progresif mahluk hidup sejak dari awal sampai menuju kematangan. Pertumbuhan melibatkan suatu seri perubahan anatomi dan fisiologi. Sel tubuh termasuk sel otak akan mengalami penambahan jumlah (multiplikasi), dan bertambah ukuran.
3.     Pola perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang menimbulkan perbedaan tampilan dari setiap anak.  Perkembangan mencakup rangsangan yang diberikan  kepada anak  dan umumnya pencapaian perkembangan optimal tergantung rangsangan (stimuli)  dari luar dan umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur yang lebih tinggi. Perkembangan mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai dengan umur dan taraf perkembangan.
4.    Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai standar prosedur pengumpulan data antropometri.
5.     Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
 
DAFTAR PUSTAKA

Bridger, R.S., 2003. Introduction to ergonomics, CRC.
Helander, M., 2006. A guide to human factors and ergonomics, Crc Press.
Niebel, B. & Freivalds, A., 2002. Methods, standards and work design 11th ed. Recherche, 67,  p.02.
Nurmianto, E., 1996. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi pertama. Cet, 3.
Pulat, B.M., 1997. Fundamentals of industrial ergonomics, Waveland Press. .
Wickens, C.D.; Lee J.D.; Liu Y.; Gorden Becker S.E. 2004. An Introduction to Human Factors Engineering. 2nd Edition.Pearson Education Inc.